Infoproteksi Pengendalian Tikus Sawah Rattus Argentiventer dengan Bebauan

Infoproteksi Pengendalian Tikus Sawah

Infoproteksi Pengendalian Tikus Sawah Rattus Argentiventer dengan Bebauan

Infoproteksi Pengendalian Tikus Sawah

Pengendalian Tikus Sawah

Oryza sativa merupakan salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Tanaman penghasil beras ini dalam masa pertumbuhannya tidak luput dari organisme – organisme pengganggu seperti tikus. Tikus sawah (R. argentiventer) merupakan salah satu hama utama dari tanaman padi. Tikus menyerang padi sejak di pembibitan, fase vegetatif, fase generatif sampai di tempat penyimpanan. Oleh sebab itu pengendalian tikus sangatlah diperlukan untuk mencegah terjadinya kehilangan hasil yang besar (Baco dan Sama 1995; Leirs 2003).

Infoproteksi Pengendalian Tikus

Petani telah melakukan berbagai cara untuk mengendalikan tikus, diantaranya yaitu secara kultur teknis, fisik dan biologis. Akan tetapi teknik-teknik pengendalian tersebut tidak selalu memberikan pengaruh yang besar terhadap penurunan populasi tikus. Pengendalian secara kimiawi pun sudah dilakukan oleh sebagian besar petani. Pengendalian secara kimiawi memang memberikan efek yang cepat dalam mengendalikan serangan tikus. Namun, penggunaan zat kimia yang terlalu berlebihan dan diaplikasikan secara terus menerus dapat berbahaya bagi makhluk hidup non target yang berada di sekitarnya (Pakki, Taufik dan Adnan, 2009).

Tikus sebenarnya dapat dikendalikan dengan memanfaatkan indra yang dimilikinya. Satu diantara beberapa indra yang dimiliki oleh tikus yang bisa kita manfaatkan pada saat melakukan pengendalian adalah indra penciuman. Indra penciuman yang tajam memungkinkan untuk tikus mencium bau pakan yang disukai, mencium bau tikus lain ataupun predator yang akan memangsanya (Baco, 2011).

Rattus Argentiventer dengan Bebauan

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tikus adalah dengan menggunakan rodentisida berbahan alami. Bahan alami yang dapat digunakan yaitu biji jengkol (Pithecolobium lobatum). Jengkol memiliki ciri khas yaitu berupa bau yang menyengat. Menurut Pitojo pada tahun 1992 mengatakan bahwa bau jengkol dapat digunakan untuk menghalau tikus. Air bekas rendaman biji jengkol yang direbus atau sebelum direbus, mempunyai bau ureum yang sangat menyengat. Air tersebut dapat digunakan sebagai penghalau tikus, dengan cara dimasukkan ke dalam lubang aktif tikus. Lubang tikus itu ternyata kemudian ditinggalkan dan tidak dihuni lagi oleh tikus. Hal ini diduga karena selain kandungan ureum, terdapat pula unsur belerang (sulfur) yang diikat oleh asam jengkolat yang terlarut di air rendaman tersebut.

Asam kaproat dan kaprat dalam buah

Selain biji jengkol, buah mengkudu (Morinda citrifolia) juga diduga dapat mengendalikan tikus. Buah mengkudu mengandung asam organik seperti asam askorbat yang memilki fungsi sebagai antioksidan. Mengkudu juga mengandung asam kaproat, asam kaprilat dan asam kaprat yang merupakan golongan asam lemak. Asam kaproat dan kaprat dalam buah mengkudu itu lah yang menyebabkan munculnya bau busuk dan tajam yang menyengat, terutama pada buah mengkudu yang sudah matang. Bau busuk yang dikeluarkan mengkudu tersebut, membuat tikus tidak menyukainya. Salah satu cara pengolahan buah mengkudu agar dapat mengendalikan tikus adalah dengan menghancurkan buah mengkudu dan menambahkan air kemudian disiramkan ke daerah yang sering di lewati oleh tikus.dan ke daerah sekitar pertanaman padi yang menjadi sumber makanan tikus sawah tersebut.

 

Sumber : http://bkpsdm.pringsewukab.go.id/blog/cara-menanam-buah-naga/