Guru Asing Tidak akan Gantikan Guru Lokal

Guru Asing Tidak akan Gantikan Guru Lokal

Guru Asing Tidak akan Gantikan Guru Lokal

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menyatakan bahwa guru yang didatangkan dari luar negeri tidak akan menggantikan guru lokal. Guru asing tersebut hanya bekerja selama 4 sampai 6 bulan untuk melatih guru lokal yang kompetensinya di bidang vokasi dianggap lemah.

“Jadi bukan mengimpor, tetapi mengundang guru untuk program training of trainer (TOT). Salah satu pertimbangan mendatangkan instruktur/guru dari luar negeri adalah untuk meningkatkan kemahiran instruktur atau guru Indonesia agar lebih efisien daripada mengirim instruktur atau guru Indonesia ke luar negeri,” ujarnya di Kantor Kemendikbud Jakarta, Senin (13/5/2019) seperti diwartakan Harian Umum Pikiran Rakyat.

Ia menuturkan, mengundang guru asing bertujuan mempercepat peningkatan kapasitas vokasi di sekolah menengah kejuruan (SMK). Guru yang diundang adalah guru di bidang sains, teknologi, matematika, dan permesinan. Kemendikbud juga sudah mengirimkan 1.200 guru untuk mengikuti pelatihan di luar negeri, seperti Tiongkok, Jepang, dan Australia.

“Tidak hanya untuk sekolah, tapi juga untuk lembaga pelatihan yang berada di kementerian lain. Sasaran utamanya guna meningkatkan kapasitas pembelajaran vokasi di SMK,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Sartono mengatakan, mengundang guru asing merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi lulusan SMK. “Jika gurunya kompeten, diharapkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja lulusan SMK semakin berkualitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap tahun jumlah lulusan SMA/SMK lebih dari 3,5 juta siswa,

sedangkan yang bisa ditampung di perguruan tinggi hanya sekitar 1,8 juta. Sekitar 1,6-1,7 juta lainnya masuk ke pasar tenaga kerja. Kondisi demikian telah berlangsung selama 10 tahun terakhir.

“Kondisi ini harus diperbaiki agar bonus demografi dapat maksimal. Caranya, dengan meningkatkan kapasitas perguruan tinggi, baik universitas maupun politeknik,” tambahnya.

Agus memastikan bahwa guru dari luar negeri sifatnya hanya membantu. Ia mencontohkan, bantuan guru datang dari program revitalisasi vokasi. Dengan demikian, Indonesia boleh minta didatangkan guru dari luar negeri.

“Daripada mengirim ribuan orang ke luar negeri, akan jauh lebih efisien

mendatangkan guru untuk melakukan TOT. Meski tentu tidak semua bidang bisa dilakukan,” ucapnya.

Keahlian ganda

Selain mendatangkan guru asing, pemerintah juga sejak 3 tahun terakhir mulai menerapkan program guru keahlian ganda untuk meningkatkan kompetensi guru SMK. Pendekatan semacam ini dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) melalui sistem exchange program.

Agus mengatakan, selain melakukan pendidikan profesi guru, LPTK juga melakukan

berbagai pelatihan guna meningkatkan kompetensi guru, termasuk guru produktif.

“Jika cara ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan guru produktif, bisa saja nanti mengambil lulusan politeknik. Artinya, selama belajar atau kuliah di politeknik, mahasiswa pasti sudah mengikuti magang di industri ,tinggal mengikuti PPG 1 tahun,” ungkapnya.

 

Baca Juga :