Definisi Ayam Wareng dan Kalosi Serta Penjelasannya

Definisi Ayam Wareng

Definisi Ayam Wareng dan Kalosi Serta Penjelasannya

Definisi Ayam Wareng

Ayam Wareng

Ayam wareng merupakan salah satu bangsa ayam lokal Indonesia yang banyak terdapat di Tangerang dan diakui oleh masyarakat Tangerang sebagai sumber plasma nutfah ayam khas dari daerah tersebut. Postur ayam wareng termasuk kecil sehingga efisien dalam penggunaan pakan, namun produksi telurnya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan ayam kampung. Pemanfaatan ayam wareng sebagai penghasil telur belum diikuti dengan pengelolaan yang tepat sehingga populasinya makin menurun dari waktu ke waktu. Informasi mengenai karakteristik dan potensi produksinya belum terdokumentasikan dengan baik.

Saat ini di Balitnak sedang dilakukan kegiatan koleksi dan karakterisasi secara ex-situ ayam wareng sebagai salah satu upaya pelestarian ayam lokal tersebut agar tidak punah. Sebanyak 95 ekor ayam wareng dewasa yang berumur sekitar 6 bulan terdiri dari 45 ekor jantan dan 50 ekor betina diamati karakteristik kualitatif dan ukuranukuran tubuhnya. Ayam-ayam wareng tersebut dipelihara secara intensif di kandang dengan sistem ”batere” yang berukuran 25 x 35 x 40 cm/ekor.

Pakan yang diberikan adalah konsentrat komersial produksi PT. Gold Coin 105 untuk ayam petelur dengan jumlah pemberian sekitar 80 g/ekor/hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karakteristik kualitatif ayam wareng yang meliputi warna bulu di leher, punggung, dada, sayap dan ekor didominasi oleh warna putih. Begitu pula warna di bagian-bagian tubuh yang meliputi kulit, paha, cuping, paruh dan shank didominasi oleh warna putih. Jengger ayam wareng hampir 100% berwarna merah dengan bentuk jengger 100% tunggal (single) baik jantan maupun betina. Bobot badan ayam wareng jantan 1007 g dan betina 841 g.
Berdasarkan ukuran-ukuran tubuh diperoleh nilai dalam cm sebagai berikut panjang shank 7,8 jantan dan 6,9 betina, linkar shank 3,7 jantan dan 3,1 betina, panjang tibia 11,7 jantan dan 10,1 betina, panjang femur 9,7 jantan dan 7,7 betina, panjang dada 13,7 jantan dan 12,1 betina, lingkar dada 25,1 jantan dan 23,5 betina, panjang punggung 15,5 jantan dan 13,4 betina, panjang sayap 17,1 jantan dan 14,1 betina, panjang leher 10,8 jantan dan 10,9 betina, panjang paruh 3,1 jantan dan betina, lebar kepala 3,3 jantan dan 3,5 betina, dan panjang kepala 6,8 jantan dan 6,4 betina. Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa warna bulu ayam wareng didominasi warna putih, sedangkan secara kuantitatif ayam wareng dikategorikan sebagai ayam tipe kecil karena bobot badan dewasanya kurang dari 1 kg/ekor, namun lebih besar dari ayam-ayam tipe kate (dwarf).

Ayam Kalosi

Ayam buras merupakan salah satu komoditas andalan dari sub sektor peternakan yang diunggulkan dalam program peningkatan produksi dan ekspor dua kali lipat (Grateks- 2) oleh Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Selatan. Perkembangan populasi ayam buras di Sulawesi Selatan dari tahun 1995- 1997 hanya mengalami kenaikan rata- rata 0,09% pertahun (Sensus Pertanian Non Tanaman Pangan, 1998), namun data populasi ternak dari Dinas Peternakan menunjukkan bahwa pertumbuhan ayam buras dari tahun 1998 sampai 2000 mengalami kenaikan sebesar 3,56%. Selain itu populasi ayam ras mengalami peningkatan sebesar 11,23% pada periode tersebut (Dinas Peternakan, 2000)

Peternakan ayam buras

Baik di Indonesia secara umum maupun di sulawesi selatan pada khususnya masih bertumpu pada peternakan rakyat skala kecil, sehingga eksistensi ternak tersebut mempunyai arti yang cukup strategis bagi pertumbuhan perekonomian di pedesaan. Karena itu ayam buras menjadi bagian integral dalam system usaha tani karena produksinya dapat langsung dimanfaatkan petani baik sebagai bahan pangan maupun untuk di jual untuk menambah pendapatan keluarga.

Dalam pasca krisis ekonomi, walaupun harga pakan cenderung meningkat, pemeliharaan ayam buras skala kecil masih bisa bertahan walaupun harga pakan relatif mahal, karena para keluarga tani cenderung memanfaatkan bahan lokal yang murah, antara lain dedak padi ataupun jagung serta beberapa jenis limbah rumah tangga. Dalam kondisi krisis ekonomi, dimana harga pupuk buatan meningkat terus dari tahun ketahun, sementara harga beberapa produk pertanian terutama komodotas pangan mengalami stagnasi, telah mempengaruhi nisbah pupuk dengan produk pertanian tanaman pangan (gabah) yang nilainya kian membesar. Nisbah tersebut pada tahun 1985 nilainya hanya 0,74, pada tahun 1999 telah mencapai 1,50. Data tersebut memberikan indikasi bahwa pada tahun 1985 petani hanya menjual 0,74 kg gabah untuk membeli 1kg urea, sedangkan pada tahun 1999, petani harus menjual 1,5kg gabah untuk memperoleh 1kg urea. Dalam kondisi tersebut, kotoran ayam (ayam buras maupun ayam ras) dapat memberikan sumbangan yang cukup berarti untuk digunakan sebagai pupuk organik, yang dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk buatan.

produktivitas ayam buras

Pada umumnya produktivitas ayam buras lebih rendah dibandingkan dengan ayam ras karena faktor genetisnya. Di lain pihak, ayam ras walaupun produksi telurnya tinggi, tetapi sebagian konsumen telur di Sul – Sel lebih memilih telur ayam kampung. Nataamijaya et al (1994), melaporkan bahwa keberadaan jenis ayam lokal mempunyai tampilan produktivitas yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Karena itu seleksi (Grading up) terhadap jenis ayam lokal dengan ayam introduksi diharapkan dapat meningkatkan produksi telur selain dapat memfasilitasi pasar dengan telur ayam buras sesuai preferensi petani.

Kondosi tersebut yang memotivasi Pemda SulSel yang dimotori oleh gubernur Sulsel H.Z.B Palaguna, telah memberi perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan ayam buras dengan memperbaiki performans ayam buras yang ada dengan cara “Grading up” (Menyilangkan dengan ayam introduksi dan ayam buras unggul). Ide tersebut telah diaktualisasikan dalam wujud nyata dalam bentuk kemitraan antara CV. Fauna Mulya Jaya dengan Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Selatan dalam suplay DOC ayam buras yang telah diperbaiki mutu genetiknya yang diberi nama kalosi lotong, kalosi pute dan karame pute.Proses “Grading up” dapat dilihat pada lampiran 1,2 dan 3.

Sumber : https://lahan.co.id/

Tags: , ,