Betapa Cinta Itu Ada Jika Kita Mau Merasakannya

Betapa Cinta Itu Ada Jika Kita Mau Merasakannya

Betapa Cinta Itu Ada Jika Kita Mau Merasakannya

Suatu hari, seorang gadis bertengkar dengan ibunya

Karena sangat marah, ia pergi meninggalkan rumah tanpa membawa sesuatu apapun.
Hari telah menjadi malam, saat ia menyusuri sebuah jalan kecil di pinggiran kota. Kebetulan sekali di sana ia melihat sebuah kedai bakmi, dari sana  tercium aroma masakan yang sangat lezat.

Segera ia menghampiri kedai tersebut

namun betapa kecewanya ia setelah menyadari ia tidak memiliki uang sepeserpun, mungkin karena tadi  terburu-buru pergi meninggalkan rumah. Dalam hati ingin sekali ia memesan semangkuk bakmi yang nikmat itu untuk menghilangkan letih dan rasa laparnya.
Si pemilik kedai yang melihat gadis itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu menghampiri gadis tersebut “Nona, apakah anda ingin memesan semangkuk bakmi?”

”Ya, tapi saya tidak memiliki uang” jawab gadis itu dengan malu.

“Tak apa, masuklah. Aku akan menyediakan semangkuk bakmi dan segelas minuman hangat untukmu. Kau tidak usah membayarnya, anggap saja aku mentraktirmu. Kulihat tampaknya kau tengah letih dan lapar.” jawab si pemilik kedai sambil mempersilahkan gadis itu masuk dan duduk di sebuah kursi.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai datang membawakan semangkuk bakmi dan segelas minuman hangat untuknya. Gadis itupun segera melahapnya, namun setelah beberapa suapan gadis itu mengis. Si pemilik kedai menjadi heran, apa ada yang salah dengan bakmi buatannya. “Ada apa nona, kenapa anda menangis?”
“Oh tidak, tidak apa-apa. Saya hanya sdikit terharu” jawab gadis itu sambil mengeringkan air matanya.
“Kalau boleh tahu, apa yang membuat mu terharu?” tanya sipemilik kedai lagi.
“Saya terharu karena anda, ada adalah seorang yang tidaksaya kenal, tetapi mau memberi saya semangkuk bakmi!, Sedangkan ibu saya sendiri setelah bertengkar dengan saya, malah membiarkan saja ketika saya katakan ingin pergi dari rumah. Bahkan ia mengatakan agar saya jangan kembali lagi.”  Sambil terisak-isak ia melanjutkan, “tetapi anda begitu peduli kepada saya, bahkan dari ibu kandung saya sendiri.”
“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu dan berterimakasih kepadaku. Sedangkan ibumu telah memasak berbagai macam makanan yang lezat setiap hari bahkan sejak kau kecil, mengapa kau tidak terharu dan berterima kasih kepadanya? Bahkan kau meninggalkannya. Dialah orang yang seharusnya palin pertama layak mendapatkan terimakasihmu?” ucap si pemilik kedai sambil menatap gadis itu.
Mendengar ucapan si pemilik kedai, gadis itupun terhenyak beberapa saat. “Engkau benar, mengapa saya tidak berpikir hal itu. Ibu yang selama bertahun-tahun telah menyidiakan makanan lezat setiap hari untuk saya, saya bahkan tidak memperlihatkan kepedulian kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele saya bertengkar dengannya, bahkan sampai pergi meninggalkan rumah.”
“Pulanglah, ibumu pasti sangat mengkuatirkanmu” nasehat si penjual bakmi.
Segera setelah gadis itu menghabiskan bakminya, ia menguatkan diri untuk kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkan kata-kata si penjual bakmi. Dalam hatinya, ingin sekali ia mencium kaki ibunya.
Begitu sampai di rumah, ia melihat ibunya tampak letih dan cemas. Kalimat pertama yang ia dengar dari mulut ibunya adalah “Kamu sudah pulang? Masuklah, ibu telah menyiapkan makan malam untukmu. Makanlah dahulu sebelum kamu beristirahat, kelihatannya kau begitu lelah hari ini.”
Dengan perasaan menyesal dipeluknya sang ibu, sambil terisak ia berkata. “Bu…, maafkan Dini telah berkata kasar kepada ibu. Dini sayang ibu, karena ibu tak putus-putus memberikan Dini perhatian dan kasih sayang buat Dini. Dini tidak akan mengulanginya lagi Bu, Dini berjanji akan menjadi anak yang terbaik buat ibu, seperti ibu yang begitu baik kepada Dini”

Baca Juga :